Pati , jurnalsidak.com kembali diguncang drama panas yang makin liar dan tak terkendali. Perseteruan panjang antara Utomo dan Zana kini berubah menjadi perang terbuka tanpa rem. Serangan tak lagi sekadar sindiran—kini berubah menjadi saling bongkar aib, tuduhan keji, hingga dugaan praktik klenik yang mencengangkan.
Yang lebih mengejutkan, Utomo kini justru berbalik menyerang mantan sahabatnya sendiri: Budi Aryanto dan Suwarti. Konflik yang semula personal kini menjelma jadi tontonan publik yang penuh intrik, pengkhianatan, dan sensasi.
Dalam jumpa pers panas (26/03), Budi dan Suwarti secara blak-blakan membongkar sisi gelap hubungan mereka dengan Utomo. Mereka mengaku pernah diajak ke dukun, bahkan disebut ikut dalam praktik santet untuk mencelakai Zana.
Salah satu bukti yang bikin merinding adalah voice note yang diduga suara Utomo:
“Ayo Ti, ndang ditobrol-tobrol… ben ndang mati.”
Kalimat itu langsung menyulut kemarahan publik. Tuduhan praktik teluh dan santet kini bukan lagi bisik-bisik, tapi sudah dilempar terang-terangan ke ruang publik.
Tak berhenti di situ, chat WhatsApp yang dipamerkan ke media juga memperlihatkan dugaan rekayasa kasus hingga skenario klenik untuk menjatuhkan Zana, yang disebut dengan nama samaran “Kathinah”.
Balik Serang! Budi & Suwarti Bongkar Dugaan Fitnah dan Manipulasi
Budi Aryanto pun tak tinggal diam. Dengan nada kesal, ia mempertanyakan logika laporan Utomo yang dianggapnya janggal dan penuh rekayasa.
“Saya dilaporkan mencuri mesin kapal yang bukan miliknya. Lucunya, bukti yang dipakai itu video pemberian uang solar. Itu bukan hasil penjualan mesin!”
Suwarti ikut menyulut api:
“Dia sendiri yang suruh bikin contoh kuitansi, sekarang malah dijadikan bukti menipu. Sudah tua, harusnya sadar!”
Sementara itu, Pak Man—yang ikut terseret—mengaku hanya menjalankan perintah:
“Saya disuruh melepas mesin kapal, digaji 250 ribu per hari. Saya tidak tahu itu bukan miliknya.”
Motif Uang dan Beban 5,5 Miliar?
Di balik semua drama ini, muncul dugaan motif yang lebih besar: uang miliaran rupiah.
Utomo sebelumnya telah divonis bersalah atas penipuan sebesar 5,5 miliar kepada Zana pada 2023. Kini, menurut Suwarti, konflik kapal yang terus diungkit diduga hanya akal-akalan untuk menghindari tanggung jawab.
“Kalau Zana dijatuhkan, dia bisa lepas dari kewajiban bayar.”
Zana pun angkat bicara dengan nada tegas:
“Kenapa dia ikut campur urusan utang orang lain? Urus saja utangnya sendiri!”
Drama Tanpa Akhir, Publik Bingung
Perang ini kini tak hanya terjadi di ruang hukum, tapi juga di media sosial—penuh hujatan, sindiran, dan saling serang tanpa henti.
Publik pun dibuat bingung: siapa yang sebenarnya bermain kotor? Siapa korban, dan siapa dalang?
Yang jelas, konflik ini sudah jauh dari sekadar sengketa biasa. Ini adalah pertarungan ego, uang, dan rahasia gelap yang kini terbuka ke permukaan.
Dan satu hal pasti—ini belum selesai.
Red.










