Pati, Jawa Tengah – jurnalsidak.com Aktivitas pengolahan arang batok kelapa di kawasan Jalan Lingkar Selatan (Lkr Sel) Pati, wilayah Kebun Desa Ngawen Kecamatan Margorejo, dilansir dari berbagai media menyebut bahwa aktivitas kembali menjadi sorotan publik. Asap putih keabu-abuan yang mengepul tebal dari lokasi pembakaran diduga menjadi penyebab gangguan jarak pandang dan ancaman keselamatan bagi pengguna jalan.

Sejumlah pengendara mengeluhkan bahwa asap kerap menutupi badan jalan, terutama saat angin bertiup ke arah timur. Kondisi ini dinilai sangat membahayakan, khususnya bagi pengendara roda dua yang rentan kehilangan visibilitas secara tiba-tiba.
“Pemandangan sangat membahayakan, kabut dan asap sampai menutupi jalan. Mohon dinas terkait segera menindaklanjuti lokasi pengolahan arang batok kelapa,” keluh Supri, salah satu pengendara yang sering melintas di kawasan tersebut.
Pantauan lapangan menunjukkan asap cukup pekat hingga menyerupai kabut tebal. Selain mengganggu pandangan, bau menyengat juga tercium di sekitar lokasi. Warga sekitar menyatakan kondisi ini bukan pertama kali terjadi, melainkan sudah berulang tanpa penanganan yang tegas.
Dugaan sementara, asap berasal dari proses pembakaran batok kelapa dalam jumlah besar yang dilakukan tidak jauh dari badan jalan. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai kelayakan izin usaha, pengawasan lingkungan, serta standar operasional yang diterapkan pelaku usaha.
Ironisnya, lokasi produksi berada di jalur strategis yang setiap hari dilintasi kendaraan dalam jumlah tinggi. Aktivitas yang menghasilkan polusi tersebut diduga dibiarkan berjalan tanpa pengendalian emisi memadai, sehingga dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pati, Tulus Budiharjo, saat dikonfirmasi lewat pesan WhatsApp menyatakan akan menindaklanjuti aduan masyarakat. Namun warga berharap langkah konkret segera dilakukan, bukan sekadar peninjauan atau teguran administratif.
Terkonfirmasi oleh Hugo pemilik CV Cengkir Gading yang meproduksi arang bathok tersebut, “Kami akui bahwa asap memang dari pabrik kami, dan kemarin sempat berasap banyak namun kini sedang ada pembaharuan peralatan agar asap tipis-tipis, kami minta maaf jika mengganggu, pabrik jika ditutup sementara ini ada 50 karyawan yang bergantung, kasihan mereka jika tidak ada pekerjaan,” Ungkap Hugo saat ditemui media ini. (25/02).










